Press "Enter" to skip to content

TAFSIR SURAT YASIN (AYAT 69)

2

Lanjutan Terjemah TAFSIR SURAT YASIN (AYAT 66 – 68) karya Syekh Hamami Zada, semoga derajat beliau bersama leluhur dan keturunanya ditinggikan oleh Alloh SWT. Aamiin

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

Bismillâĥirrohmânirrohîm

اَللّهُمَّ صَلِّ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ

Allôĥumma Sholli Âlâ Sayyidinâ Muhammad, Allôĥumma Sholli Âlâyĥi wa Sallim

SURAT YASIN AYAT 69

وَمَا عَلَّمْنٰهُ الشِّعْرَ وَمَا يَنْبَغِيْ لَهٗۤ إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ وَقُرْءَانٌ مُّبِيْنٌ.

Wamâ ‘Allamnâĥusy Syi’ro Wamâ Yan(m)baghî Laĥû In Ĥuwa Illâ Dzikrun(w) Wa Qur-ânun(m) Mubîn(un).

(69) Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Al-Quran itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan.

TAFSIR SURAT YASIN AYAT 69

Al-Kalibiy menyatakan bahwa alasan diturunkannya ayat ini (Asbab al-Nuzuul) adalah ketika orang-orang kafir Mekah menganggap Nabi Muhammad SAW seorang penyair. Karena itu, mereka menganggap semua yang diucapkan Nabi SAW adalah syair. Maka Allah SWT menurunkan ayat ini sebagai bentuk penolakan kepada mereka, seolah-olah Dia menyatakan bahwa Dia tidak menurunkan syair kepada Muhammad SAW, syair tidaklah pantas diberikan kepadanya, karena syair bukanlah perkataan para rasul.

Diriwayatkan dalam sebuah hadits:

لَأَنْ يَمْتَلِىءَ جَوْفُ أَحَدِكُمْ قَيْحًا خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَمْتَلِىءَ شِعْرًا

“Sesungguhnya mulut salah seorang diantara kalian yang dipenuhi nanah lebih baik daripada dipenuhi syair.”

Diriwayatkan dalam sebuah hadits:

اْلحَيَاءُ وَالسُّكُوْتُ شُعْبَتَانِ مِنَ اْلإِيْمَانِ وَاْلبَذَاءُ وَاْلبَيَانُ شُعْبَتَانِ مِنَ النِّفَاقِ

“Malu dan diam merupakan dua cabang keimanan, sedangkan perkataan kotor dan terbuka adalah dua cabang kemunafikan.”

Dalam hadits yang lain, Rasulullah SAW bersabda:

رَأَيْتُ لَيْلَةَ اْلمِعْرَاجِ قَوْمًا تَقْطَعُ الزَّبَانِيَّةُ شَفَاهَهُمْ بِاْلمَقَارِيْضِ فَسَأَلْتُ جِبْرِيْلَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ مَنْ هَؤُلَاءِ قَالَ هُمُ الشُّعَرَاءُ

“Pada malam aku dimi’rojkan oleh Allah SWT, aku melihat satu kaum yang semua lidah mereka sedang dipotong oleh malaikat Zabaniyah dengan gunting neraka. Aku menanyakan hal itu kepada malaikat Jibril AS, dan dia mengatakan bahwa mereka adalah para penyair.”

Menurut riwayat yang disampaikan oleh Qatadah, Muammar mengatakan bahwa Siti Aisyah RA pernah ditanya, “Apakah Nabi SAW pernah meniru-niru sebuah syair?” Dia menjawab, “Syair merupakan sesuatu yang dibenci oleh Rasulullah SAW.” Selanjutnya dia mengatakan bahwa Nabi SAW hanya pernah menyampaikan sebuah syair Bani Qais sebagai berikut:

سَتُبْدِيْ لَكَ اْلأَيَّامُ مَا كُنْتَ جَاهِلًا        وَيَأْتِيْكَ بِاْلأَخْبَارِ مَنْ لَمْ تَزَوَّدَ

Hari-hari terasa menyesakkan selama engkau bodoh

Karena seseorang yang tidak mengerti mendatangimu dengan beritanya.

Abu Bakar RA bertanya kepada beliau, “Apakah ini bukan syair, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Aku bukanlah penyair, dan syair tidak pantas untukku.”

Al-Quran mengandung pelajaran dan menjelaskan segala kewajiban, batasan-batasan dan hukum. Diriwayatkan dari Nabi SAW, bahwa jika beliau hendak meniru sebuah syair, maka ketika hendak diucapkan beliau, bentuk syair itu akan berubah dengan kekuasaan Allah SWT; dari bentuk sajak ke bentuk bacaan biasa (prosa). Seperti suatu hari, Rasulullah SAW membaca bait ini:

كَفَى بِاْلإِسْلَامِ وَالشَّيْبِ لِلْمِرْءِ نَاهِيًا

“Bagi seseorang, cukuplah Islam dan uban sebagai pencegah berbuat dosa.”

Abu Bakar mengomentari beliau, “Wahai Rasulullah, saya pernah membuat bait ini:

كَفَى وَالشَّيْبُ وَاْلإِسْلَامُ لِلْمَرْءِ نَاهِيًا

Kemudian Rasulullah SAW membaca bait ini seperti bacaan beliau yang pertama. Mendengar itu, Abu Bakar RA berkata, “Saya bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah, dan Allah SWT tidak mengajarkan syair kepada engkau, karena syair tidak pantas bagi engkau.”

Rasulullah SAW pernah mengucapkan kalimat yang bersajak, yaitu:

أَنَا النَّبِيُّ لَا كَذِبَ          أَنَا ابْنُ عَبْدِ اْلمُطَّلِبِ

Aku adalah Nabi, tidak ada kebohongan lagi

Aku adalah anak (cucu) dari Abdul Muthalib.

Bersambung …

  1. Alhamdulillah terima kasih pencerahan ilmunya sangat bermnfaat, Aamiin

    • Dede Sambas Kustiawan Dede Sambas Kustiawan

      Alhamdulillah, terima kasih kembali.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: