Press "Enter" to skip to content

TAFSIR SURAT YASIN (AYAT 4 – 8)

0

Lanjutan terjemah TAFSIR SURAT YASIN (AYAT 1 – 3) karya Syekh Hamami Zada, semoga derajat beliau bersama leluhur dan keturunannya ditinggikan oleh Alloh SWT. Aamiin.

SURAT YASIN

AYAT 4 – 8

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ اَللّهُمَّ صَلِّ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ

عَلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ.

‘Alâ Shirôthin(m) Mustaqîm[in].

(4) (Yang berada) pada jalan yang lurus.

Yang dimaksud dengan al-shirot (jalan) adalah agama Islam, jadi maknanya, “Wahai Muhammad, sesungguhnya engkau salah satu dari para rasul dan agamamu adalah agama kebenaran dan keselamatan, dan orang-orang kafir ada dalam agama yang bathil.”

Apa maksud yang terkandung dalam sumpah Allah SWT dalam kesaksiannya bahwa Muhammad itu salah seorang rasul? Karena jika sumpah ini ditujukan kepada orang-orang kafir untuk mempercayai kerasulan Muhammad, maka mereka tetap tidak akan mempercayainya; dan jika sumpah ini ditujukan kepada orang-orang muslim untuk mempercayai kerasulan Muhammad, mereka sudah percaya meskipun tidak dengan sumpah Allah. Jawabannya adalah karena Allah SWT bermaksud untuk menegaskan pernyataan-Nya kepada orang-orang yang mengingkari kerasulan Muhammad, dan sumpah merupakan salah satu cara untuk memperkuat pernyataan. Oleh karena itulah, Allah SWT bersumpah sebagai bukti penegasan-Nya.

تَنْزِيْلَ اْلعَزِيْزِ الرَّحِيْمِ.

Tan(g)zîlal ‘Azîzir Rohîm[i].

(5) (Sebagai wahyu) yang diturunkan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.

Jika kata tanzil (yang diturunkan) dibaca nashab/fathah (tanziila) maka kata itu sebagai maf’ul (objek) dari fi’il (kata kerja) yang dibuang (mahdzuf), yaitu Iqro tanziila al-Aziiz, artinya “Wahai Muhammad, bacalah wahyu yang diturunkan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” Tetapi, jika kata itu dibaca rofa’/dlommah (tanziilu), maka kata itu sebagai khobar (predikat) dari mubtada (subjek) yang dibuang (mahdzuf), yaitu “Al-Quran ini diturunkan kepadamu dengan perantaraan Jibril AS dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, maka bacalah al-Quran ini di hadapan orang-orang yang mengingkarimu sampai mereka mendengar ayat-ayat-Ku, takut kepada-Ku, dan menyadari kesalahan mereka!”

لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَّآ أُنْذِرَ اٰبَآؤُهُمْ فَهُمْ غَافِلُوْنَ.

Litun(g)dziro Qowman(m) Mâ Un(g)dziro Âbâ-uĥum Faĥum Ghôfilûn[a].

(6) Agar kamu memberikan peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai.

Ayat ini merupakan alasan dari ayat sebelumnya, yaitu memberi peringatan kepada satu kaum yang lalai dari keimanan dan petunjuk karena lamanya waktu berselang antara nabi sebelumnya ke nabi Muhammad SAW. Maksudnya, “Wahai Muhammad, Kami turunkan al-Quran kepadamu untuk membuat takut kaum yang tidak pernah merasa takut akan Allah.” Yang dimaksud kaum di sini adalah kaum Quraisy, karena sejak zaman nabi Ismail AS hingga zaman nabi Muhammad SAW tidak ada seorang  nabi atau rasul pun yang datang untuk memberi peringatan kepada mereka. Sebab itulah mereka lalai, karena tidak mengetahui satu pun agama atau syariat.

لَقَدْ حَقَّ اْلقَوْلُ عَلٰىۤ أَكْثَرِهِمْ فَهُمْ لاَ يُؤْمِنُوْنَ.

Laqod Haqqol Qowlu ‘Alâ Aktsariĥim Faĥum Lâ Yu`minûn[a].

(7) Sesungguhnya telah pasti berlaku perkataan (ketentuan Allah) terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman.

Siksa akan menimpa banyak orang dari kaum Quraisy. Allah SWT menyampaikan ayat ini karena Dia Maha Mengetahui melalui pengetahuan-Nya yang kekal bahwa kebanyakan orang Quraisy tidak akan percaya kepada Allah SWT dan kerasulan Muhammad SAW, seperti diantaranya Abu Jahal, ‘Utbah, Syaibah, al-Mughirah dan yang lainnya. Ayat ini disampaikan untuk memperkuat alasan kecelakaan mereka, bukan untuk menjadikan mereka beriman, karena Allah Maha Mengetahui bahwa mereka bukanlah orang-orang yang memiliki tauhid dan keimanan kepada-Nya.

إِنَّا جَعَلْنَا فِىۤ أَعْنٰقِهِمْ أَغْلٰلًا فَهِيَ إِلَى اْلأَذْقَانِ فَهُمْ مُّقْمَحُوْنَ.

Innâ Ja’alnâ Fî A’nâqiĥim Aghlâlan(g) Faĥiya Ilal Adzqôni Faĥum Muqmahûn[a].

(8) Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah.

Mereka mengangkat kepala mereka sehingga penglihatan mereka menengadah, karena jika belenggu dipasang di leher seseorang, maka belenggu itu akan menghalangi dagunya dan ia akan susah untuk menundukkan kepala. Ayat ini merupakan perumpamaan orang yang tidak beriman kepada Allah SWT seperti orang yang terbelenggu dengan tangan terbelit di leher sehingga menjadikannya tidak bisa melihat apa pun karena kepalanya menengadah ke langit. Disebutkan juga bahwa ayat ini merupakan gambaran orang-orang kafir ketika disiksa di neraka Jahannam.

Bersambung …

Tinggalkan Balasan