Press "Enter" to skip to content

TAFSIR SURAT YASIN (AYAT 39 – 40)

0

Lanjutan Terjemah TAFSIR SURAT YASIN (AYAT 38) karya Syekh Hamami Zada, semoga derajat beliau bersama leluhur dan keturunanya ditinggikan oleh Alloh SWT. Aamiin

Surat Yasin

Ayat 39 – 40

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

Bismillâĥirrohmânirrohîm

اَللّهُمَّ صَلِّ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ

Allôĥumma Sholli Âlâ Sayyidinâ Muhammad, Allôĥumma Sholli Âlâyĥi wa Sallim

وَاْلقَمَرَ قَدَّرْنٰهُ مَنَازِلَ حَتّٰى عَادَ كَاْلعُرْجُوْنِ اْلقَدِيْمِ.

Wal-Qomaro Qoddarnâĥu Manâzila Hattâ ‘Âda Kal’urjûnil Qodîm[i].

(39) Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua.

Allah yang menentukan manzilah-manzilah bagi bulan. Ibn Katsir, Nafi, dan orang-orang Bashrah membaca lafadz al-Qomar dengan dlommah (al-Qomaru). Pernyataan mereka berpedoman pada ayat sebelumnya, wa aayatun lahum al-Lailu. Sedangkan yang lainnya menyatakan bahwa lafadz itu berharkat fathah karena sebagai maf’ul bih (objek) dan fi’il (kata kerja) qoddarna (yaitu, telah kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah). Jika bulan telah sampai pada akhir manzilahnya, maka bentuknya akan mengecil seperti titik, lalu kembali lagi pada manzilah pertama.

لَا الشَّمْسُ يَنْبَغِيْ لَهَآ أَنْ تُدْرِكَ اْلقَمَرَ وَلَا الَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارَ وَكُلٌّ فِيْ فَلَكٍ يَّسْبَحُوْنَ.

Lasysyamsu Yan(m)baghî Laĥâ An(g) Tudrikal Qomaro Walallaylu Sâbiqun Naĥâro wa Kullun(g) fî Falakin(y) Yasbahûn[a].

(40) Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.

Siang tidak akan masuk ke dalam waktu malam sebelum habis waktunya. Keduanya saling menggantikan dengan waktu yang teratur, salah satunya tidak akan mendahului yang lain. Disebutkan juga bahwa yang satu tidak akan masuk dalam kekuasaan yang lain. Jika keduanya bersamaan dalam satu waktu, maka datanglah kiamat. Disebutkan juga bahwa matahari tidak akan mungkin bersamaan dengan bulan dalam garis edar yang sama.

Satu malam tidak akan bersambung dengan malam yang lainnya, melainkan dipisahkan oleh siang. Bagi keduanya ada waktu untuk masing-masing beredar seperti berjalannya ikan-ikan di lautan.

Disebutkan bahwa pada awalnya matahari dan bulan memiliki kesamaan dalam bentuknya sehingga antara malam dan siang juga tidak ada perbedaan. Kemudian Allah memerintahkan kepada malaikat Jibril AS untuk mendatangi bulan dan mengusap mukanya sehingga berkuranglah cahaya yang dikeluarkannya. Disebutkan juga bahwa warna hitam yang terlihat di muka bulan merupakan bekas usapan sayap malaikat Jibril AS, lalu bertambahlah sinar yang dikeluarkan matahari, seperti dalam firman-Nya:

فَمَحَوْنَآ ءَايَةَ الَّيْلِ وَجَعَلْنَآ ءَايَةَ النَّهَارِ مُبْصِرَةً

“lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang.” (Q.S. Al-Isra :12)

Allah SWT menciptakan bulan berada di langit dunia, sedangkan matahari di langit keempat. Keduanya beredar di tempat yang semestinya beredar seperti yang telah dikemukakan di atas.

Bersambung …

Tinggalkan Balasan